Burayot, Candi Cangkuang dan Makam Mbah Dalem: Sebuah Perjalanan Wisata ke Kampung Pulo  

Tatang Budimansyah
Gerbang masuk kawasan Kampung Pulo, di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang tampak resik dan bersih, membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. (Foto: Dok Zaki Munawar)

Sembilan orang penumpang bersiap melangkah ke darat ketika getek (rakit bambu) hampir merapat ke tepi danau. Detik berikutnya, tukang getek menancapkan pengayuh yang terbuat dari bilah bambu saat kendaraan air tradisional itu sudah benar-benar menepi. “Wilujeng sumping (selamat datang) di Kampung Pulo,” ucapnya ramah.

MELINTASI Situ (danau) Cangkuang, para penumpang hanya menghabiskan waktu 10 menit untuk tiba di Kampung Pulo. Namun dalam penyeberangan yang singkat itu mereka tampak semringah.

Pada siang bolong itu matahari memang sedang menyengat dengan sempurna. Maklum musim kemarau. Tapi sengatannya tak mengusik keceriaan para pelancong.

Sepanjang perjalanan mereka dihibur oleh nyanyian sekelompok pengamen dan senda gurau tukang getek. Mereka juga disuguhi panorama hijau yang memesona.

Sejauh mata memandang, di sekeliling danau tampak Gunung Guntur, Mandalawangi, Kaledong dan Gunung Haruman.

“Weekend kali ini saya sengaja mengunjungi Kampung Pulo untuk merasakan atmosfer kehidupan di pemukiman adat dan melihat Candi Cangkuang,” ujar Elsa Agustina (32), wisatawan lokal asal Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Senin, 26 Oktober 2026.

Elsa tak sendirian. Bersama suami, dia memboyong ibu, kakak, dan dua keponakannya.

“Saya memang suka mengunjungi objek-objek wisata yang bernuansa sejarah dan budaya,” imbuhnya sambil mengunyah burayot, kudapan khas daerah setempat.

Elsa membeli aneka kudapan tradisional sesaat setelah keluarga itu turun dari getek. Perjalanan selama nyaris dua jam dari Bandung, ditambah aroma burayot yang menggoda selera, membuat perut mereka agak keroncongan.


Kendaraan air tradisional rakit (getek) siap mengantar para pelancong menuju kawasan Kampung Pulo dengan waktu tempuh 10 menit. (Foto: Dok Zaki Munawar)

 

Berbaur dengan para pengunjung lain yang datang dari berbagai daerah, Elsa dan keluarga berkeliling di Kampung Pulo. Objek wisata itu berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 24,3 kilometer dari pusat kota.

Elsa memetik banyak makna selama berada di kampung adat itu. Ya, tentang kuatnya tradisi yang diamanatkan leluhur, konservasi alam yang tetap terjaga, dan nilai-nilai budaya yang tak pernah lekang.

Elsa menyaksikan Candi Cangkuang sebagai simbol Hindu dan makam Mbah Dalem Arief Muhammad sebagai tokoh muslim. Ini menjadi penanda bahwa sikap toleransi dan saling menghormati mengejawantah di Kampung Pulo, dari generasi ke generasi.

Panglima Perang Kerajaan Mataram

Beberapa saat setelah adzan Ashar berkumandang, sejumlah pengunjung memasuki Masjid Adat, satu-satunya masjid yang ada di Kampung Pulo. Meski bangunannya tak besar, masjid ini tampak bersih.

Di luar Kampung Pulo, wisatawan muslim tak sulit menemukan masjid atau musala. Sebelum menyeberang ke kawasan itu, pengunjung bisa beribadah di Masjid Baitul Mannan.

Editor : Iwan Setiawan

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5 6

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network