.Aturan lain, pengunjung tidak diperkenankan berziarah ke Makam Mbah Dalem Arief Muhammad pada hari Rabu, “Sedangkan pantangan bagi pemukim Kampung Pulo adalah tak boleh memelihara binatang berkaki empat, misalnya, kambing atau sapi,” ucapnya.
Ikhwal burayot yang disantap dengan lahap oleh Elsa, Zaki mengungkapkan bahwa semua makanan dan minuman yang dijual di kawasan wisata ini dijamin halal.
Sebanyak 32 pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Kampung Pulo sebagian besar sudah mendapat pembinaan dari pihak Kementerian Agama setempat. Mereka sudah mengantongi Sertifikat Halal.
Tak melulu merangkul dan memberdayakan para pelaku UMKM, pengelola Kampung Pulo juga mengajak warga sekitar untuk turut terlibat.
Dia menuturkan, pengelolaan wisata tak dilakukan satu pihak saja. Selain kelompok penggerak pariwisata dan komunitas masyarakat adat Kampung Pulo, ada pedagang, pemandu, pengelola rakit, dan unsur lain yang saling mendukung.
Para pelancong menikmati kawasan Kampung Pulo yang asri, hijau, dan resik. (Foto: Dok Zaki Munawar)
Zaki mafhum akan pentingnya akses yang aman dan mudah menuju Kampung Pulo. Oleh karena itu pihaknya melibatkan warga sekitar untuk menjadi tukang getek.
“Ya, transportasi air itu dikelola oleh paguyuban usaha warga bernama Putra Cangkuang. Saat ini jumlah rakit sekitar 24 unit, dengan kapasitas sekitar 15 orang per rakit. Pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp10.000 untuk penyeberangan pulang pergi,” terang Zaki.
Adapun tarif untuk masuk ke kawasan Kampung Pulo, pada hari biasa para pelancong dewasa dikenakan tarif sebesar Rp10.000 dan Rp5.000 untuk anak-anak.
Sedangkan pada weekend dan hari libur nasional, tarifnya Rp20.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak.
Upaya Memperkuat Ekonomi Syariah
Zaki menjelaskan bahwa pengelolaan wisata di kawasan Cangkuang terorganisir melalui kelompok penggerak dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang melibatkan masyarakat, pedagang, pemerintah, dan tokoh adat.
Ada Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), asosiasi para pemandu wisata (tour guide) yang siap memandu wisatawan. Museum pun memiliki pemandu khusus yang menjelaskan tentang cagar budaya Cangkuang.
“Untuk pengunjung yang membutuhkan penjelasan khusus mengenai adat yang berlaku di Kampung Pulo, kuncen juga dapat memberikan penjelasan,” tuturnya.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
