Ketika Solar Menjadi Penghubung Kehidupan di Waduk Jatiluhur
Tarif ojek perahu untuk sekali jalan sebesar Rp25.000/orang. Rata-rata kapasitas penumpang untuk setiap perahu sebanyak 10 orang. Para wisatawan biasanya membutuhkan jasa ojek perahu untuk berkeliling di tengah danau sekitar 25-30 menit.
Selain membawa para penumpang berkeliling, Mang Yana dan para pengemudi ojek perahu lainnya sekaligus bertindak semacam pemandu wisata. Mereka mengajak para wisatawan berkeliling untuk melihat-lihat aktivitas para nelayan jaring apung di tengah danau, restoran apung, dan panorama air yang menakjubkan.
Solar Berarti Sumber Nafkah
Pekerjaan yang digeluti Mang Yana dan para pengemudi ojek perahu lainnya, sangat bergantung kepada BBM jenis solar. Ya, solar. Bisa dibayangkan bagaimana mereka bisa melajukan perahu tanpa solar.
Ketiadaan solar sama artinya dengan sirnanya nafkah mereka. Padahal, keberadaan ojek perahu di perairan Waduk Jatiluhur yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II ini memiliki peran penting dalam menyokong aktivitas dan perekonomian warga.
Dengan diantar oleh ojek perahu ke lokasi keramba jaring apung (KJA), para pemancing bisa mengail banyak ikan di tengah danau. Para wisatawan bisa leluasa menikmati pemandangan waduk yang eksotis. Belum lagi warga yang berdomisili di seberang danau jadi dimudahkan ketika hendak pergi ke pusat kota Purwakarta. Singkat kata, lalu lintas di perairan Waduk Jatiluhur yang memiliki luas 83 km² itu mustahil berjalan tanpa solar.

Bukan hanya oleh para pengemudi ojek perahu, solar juga dibutuhkan oleh para nelayan KJA yang umumnya memiliki perahu. Kendaraan air tersebut digunakan untuk mengontrol proses budidaya, mengangkut pakan, dan mengangkut ikan hasil tangkapannya ke darat. Saat ini KJA di perairan Jatiluhur berjumlah 33.000 petak.
Editor : Iwan Setiawan