Ketika Solar Menjadi Penghubung Kehidupan di Waduk Jatiluhur
Menurutnya, daripada sampah-sampah tersebut dibuang tanpa manfaat, lebih baik diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
“Pada awalnya banyak orang menganggap apa yang saya lakukan itu aneh. Namun saya tetap melanjutkan pekerjaan ini,” imbuhnya.
Bersyukur, hingga saat ini kerajinan dari daur ulang sampah Abdus Barus sudah mengisi sebuah galeri yang menjual berbagai produksi dari pelaku UMKM.
Setiap tahun galeri tersebut memesan sekitar 100 buah tas. Harga untuk satu tas sebesar Rp80.000.
Menjalin Hubungan Harmonis
Usaha kreatif yang dilakukan Warbiah, dilirik oleh PT Elnusa Petrofin Fuel Terminal (FT) Sibolga. Penanggungjawab CSR FT Sibolga Jogie Tri Olga Harahap menjelaskan, setidaknya ada lima UMKM yang menjadi binaan FT Sibolga.
Selain menyokong para pelaku UMKM, FT Sibolga juga memberikan atensi dalam bidang lingkungan dan pendidikan masyarakat sekitar, “Kami mengadakan program Elnusa Petrofin Go to School dan rutin melakukan penanaman pohon mangrove dan trembesi,” ujar Olga.
Dia menambahkan, interaksi pihak FT Sibolga dengan warga sekitar terasa harmonis, “Masyarakat sangat welcome dengan keberadaan FT Sibolga,” ujarnya.
Ke depan, dia berharap kantor pusat memfasilitasi FT Sibolga dalam upaya lebih memberdayakan pelaku UMKM. “Misalnya mengadakan pelatihan dan edukasi, dengan mendatangkan mentor, yakni seorang entrepreneur yang mumpuni,” imbuhnya.
Kisah Mang Yana dan Warbiah, hanya bagian kecil dari beragam kisah yang lahir dari kiprah PT Elnusa Petrofin. Mang Yana terus mengantar penumpang berkeliling Waduk Jatiluhur dengan perahu dieselnya. Begitu juga dengan Warbiah. perempuan ini terus berkarya menganyam plastik bekas kemasan minuman hingga menjadi karya yang artistik.***
Editor : Iwan Setiawan