Syifan, Saidah dan Sekolah Rakyat: Ketika Kemiskinan Tak Lagi Mengubur Harapan
Rasa tak berdaya, gundah, dan sedih bercampur menjadi satu. Semuanya berkecamuk hebat di dada Syifan Alyori (16). Dia merasa anak-anak dari keluarga tak mampu seperti dirinya, tak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Bagaimana mungkin cita-citanya menjadi dokter akan tercapai, jika keinginannya untuk bersekolah terancam putus di tengah jalan.
“BENAR, saya memang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tepatnya dokter spesialis penyakit jantung,” ujar Syifan saat berbincang di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Jalan HM. Joyomartono No. 19, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 17 Juni 2026.
Syifan mengaku sore itu kegiatannya tak terlalu padat. Ujian kenaikan kelas telah rampung. Para murid saat itu sedang bersiap menggelar class meeting sebelum memasuki libur panjang.
Dia mulai bercerita, perasaan yang campur aduk itu menghantuinya selama berminggu-minggu menjelang hari kelulusannya dari SMP Negeri 7 Kota Bekasi pada 2025.
Hingga pada akhirnya, sekitar dua minggu setelah pembagian rapor, ada pegawai Dinas Sosial setempat datang ke sekolah dan memperkenalkan program Sekolah Rakyat.
“Kata guru, Sekolah Rakyat merupakan program Kementerian Sosial yang diinisiasi Pak Presiden Prabowo. Sekolah ini khusus untuk keluarga tak mampu. Tak perlu bayar alias gratis. Saya ditawari masuk Sekolah Rakyat,” kenang Syifan.
Hari-hari setelah itu adalah hari-hari di mana perasaan Syifan dipenuhi sukacita. Tak ada lagi Syifan yang gundah dan murung. Yang ada adalah Syifan yang semringah, yang terus memancarkan kebahagiaan.
Terlebih setelah dia dipastikan tercatat sebagai salah satu murid yang diterima di SRMA Bekasi, melalui beberapa tahapan dan mekanisme yang diterapkan Kementerian Sosial.
“Sekolah di sini gratis. Semua kebutuhan ditanggung negara, mulai dari pakaian, makan, hingga kebutuhan sehari-hari. Selain itu sistemnya boarding school. Memang sejak dulu saya ingin bersekolah di boarding school,” ujar Syifan. Matanya tampak berkaca-kaca. Sesekali dia menghela napas sebelum melanjutkan perbincangannya.

Sulit membayangkan bagaimana nasib pendidikan Syifan jika program Sekolah Rakyat tak pernah hadir. Nenden Safrina, ibu Syifan, adalah seorang single parent. Dia mesti berjuang membesarkan kedua anaknya setelah suaminya meninggal dunia.
“Saya tak pernah mengenal Bapak. Beliau meninggal saat saya berusia empat bulan. Bapak adalah pejuang keluarga yang tangguh. Beliau bekerja sebagai sopir pada usaha rental mobil milik saudaranya,” ujarnya.
Trias Alyori, ayah Syifan, meninggal karena serangan jantung. Saat itu dia sedang mengantarkan mobil ke Jambi.
“Dalam perjalanan, bapak beristirahat di sebuah SPBU karena kelelahan. Di SPBU itu bapak meninggal. Itulah mengapa saya ingin menjadi dokter spesialis penyakit jantung. Ya, agar apa yang menimpa Bapak, tak dialami oleh orang lain,” terang Syifan.
Editor : Iwan Setiawan