Andra dan Lukisan Hitam Putihnya: Sepenggal Lakon dari Panggung Art With Heart
Diungkapkan Meidy, untuk menjadi peserta pada ajang yang diikuti oleh 18 negara itu, anaknya mesti menyisihkan sekitar 500 peserta lain pada tahap kurasi, “Andra menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia yang ikut. Alhamdulillah,” kata Meidy. Sepulang dari Korea Selatan, Andra menyambangi panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Hal yang sama dilakukannya ketika dia berhasil menjual delapan lukisannya saat berkesempatan menggelar pameran tunggal di Jakarta pada 2024, “Dia suka trenyuh jika melihat anak-anak berkebutuhan khusus, terlebih yang tak memiliki orang tua sejak lahir,” ujar Meidy.
Lebih dari Seorang Pelukis
Meidy melanjutkan, perjalanan Andra dalam meniti kariernya di dunia seni lukis masihlah panjang. Peluang untuk lebih menajamkan talentanya masih terbuka lebar.
“Acara Art with Heart merupakan bentuk kepedulian Panasonic-Gobel yang dirasakan betul manfaatnya oleh Andra dan para pelaku seni penyandang disabilitas lainnya,” ungkap Meidy.
Memang tanpa Art with Heart pun, Andra tetap menjadi seorang pelukis. Namun ketika menjadi bagian dari acara itu, Andra merasa lebih dari seorang pelukis.
“Kepercayaan dirinya menjadi meningkat. Sebagai anak dengan kondisi neurodivergent, sekarang pengendalian emosinya makin baik,” tutur Meidy.
Apa yang dilontarkan Meidy diamini Irawan. Untuk itu dia malah berharap ke depan bukan hanya Panasonic-Gobel yang menggelar event seperti itu. Irawan berandai-andai perusahaan-perusahaan lain pun memiliki kepedulian yang sama dengan Gobel. Dia optimistis jika diberi panggung, talenta orang-orang yang berkebutuhan khusus seperti Andra akan lebih tergali.
“Saya yakin banyak anak lain dengan kondisi neurodivergent yang memiliki talenta dan potensi yang belum tersalurkan karena kurangnya kesempatan serta ruang untuk mengekspresikannya,” papar Irawan.
“Selain Panasonic-Gobel, barangkali perusahaan lain bersedia menggagas event serupa. Misalnya, dengan memfasilitasi acara pameran seni para seniman berkebutuhan khusus di mal-mal secara periodik. Jadikan Art with Heart sebagai semacam pilot project,” imbuhnya.
Memunculkan Talenta yang Tersembunyi
Hal senada diungkapkan Sukri Budi Dharma, Ketua Jogja Disability Arts (JDA). Menurutnya, pemberian ruang berekspresi bagi kaum difabel seperti Art with Heart sebaiknya membudaya di negeri ini.
Butong, demikian dia biasa disapa, berharap banyak pihak yang melakukan hal sama dengan yang digelar Panasonic-Gobel. Dari ruang Art with Heart, lahir rasa kesetaraan yang membangkitkan kepercayaan diri kaum difabel.
Editor : Iwan Setiawan