Andra dan Lukisan Hitam Putihnya: Sepenggal Lakon dari Panggung Art With Heart
“Ini kegiatan positif dan perlu dijaga agar berkesinambungan. Kita tahu bahwa potensi kaum difabel belum banyak dimunculkan. Talenta mereka tersembunyi. Komunitas seperti JDA perlu diberi ruang untuk berekspresi. Sebab, sebuah komunitas akan mampu bertahan jika memperoleh dukungan. Jika tidak, maka akan mati dan hilang,” ujar Butong saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin sore, 29 Juni 2026.

Nama Butong sendiri ternyata kependekan dari Budi Tongkat. Penyandang disabilitas yang pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma ini memang menggunakan tongkat penopang kaki untuk membantunya berjalan.
Butong mengaku memiliki kesan mendalam dengan acara Art with Heart. Dia mengungkapkan bahwa acara itu berbeda dengan kegiatan pameran lain. Punya warna tersendiri. Punya makna tersendiri.
Di ajang itu para seniman diberi ruang untuk berdiskusi. Sementara pameran-pameran lain biasanya para pelaku seni hanya memajangkan karya mereka. Minim interaksi.
“Ada dialog. Ada semacam keterbukaan. Kami saling memberi masukan antarsesama peserta, juga dengan kurator. Ide-ide pun diakomodir. Selain itu, di ajang Art with Heart yang dilihat adalah karya, bukan person-nya,” imbuh seniman yang pernah mengikuti Disability Art Learning yang digelar British Council di Liverpool, Inggris itu.
Bagi lelaki kelahiran 1975 itu, Art with Heart 2026 adalah kali kedua keikutsertaannya bersama JDA. Selain dia, ada empat seniman JDA lainnya yang tampil dalam acara tersebut.
“Alhamdulillah, karya saya dan teman-teman mendapat apresiasi yang luar biasa. Kami bangga dan merasa tersanjung,” imbuh pelukis aliran surealisme itu.
Filosofi Warisan Sang Kakek
Bicara soal apresiasi, juga dirasakan oleh Rizka R Safitri, Direktur Program Tab Space, sebuah studio seni inklusif bagi seniman penyandang neurodivergent yang bermarkas di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat.
“Sejujurnya, Tab Space sangat mengapresiasi sikap peduli yang ditunjukkan Panasonic-Gobel terhadap para penyandang disabilitas,” ujarnya. Rizka melanjutkan, Art with Heart bukan sekadar ajang pameran.
“Di situ para penyandang disabilitas bertemu untuk saling memotivasi. Suasana seperti itu memang penting untuk lebih memacu mereka dalam berkarya. Mereka merasa bangga karena berkesempatan berinteraksi dengan para seniman profesional,” tuturnya.
Editor : Iwan Setiawan