Seperti pagi kemarin, seusai mengenakan rompi hitam, Nuryanti (54) mengalungkan tanda pengenal (name tag) di lehernya. Selanjutnya dia berdoa, mencium tangan suaminya, dan beranjak ke luar rumah. Jarum jam di dinding bertengger di angka 8.15 WIB.
NURYANTI, petugas Sensus Ekonomi 2026 di Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur Purwakarta, Jawa Barat, sudah siap menyambangi warga untuk melakukan pendataan. Toh semua pekerjaan rumah sudah dirampungkannya.
Tak melulu mengumpulkan data, ibu dari dua putri ini juga tengah berupaya memulihkan kepercayaan sebagian warga yang sudah telanjur terpengaruh oleh hoaks.
Kendati usianya sudah tak lagi muda, perempuan itu masih tampak energik. Nuryanti siap mengulik data dari para responden dengan berbagai karakter. Bekalnya adalah kesabaran dan senyuman ramah.
Berbekal kesabaran? Benar. Sensus Ekonomi kali ini berbeda dengan sensus yang sama 10 tahun silam. Sensus Ekonomi 2026 yang merupakan sensus untuk kali kelima ini, diwarnai dengan berseliwerannya kabar bohong di ruang media sosial.
Di Facebook, ada tangkapan layar yang disebut sebagai bocoran daftar pertanyaan Sensus Ekonomi 2026. Dalam unggahan itu ada narasi yang menyatakan bahwa sensus dilaksanakan atas kepentingan pemerintah untuk menaikkan pajak. Diklaim bahwa kas negara sudah habis untuk program Koperasi Desa, Makan Bergizi Gratis, dan Sekolah Rakyat.
Selain itu, pada Juni silam di Instagram beredar video yang menggambarkan seorang perempuan naik pitam dengan melempar keranjang kepada orang yang diklaim sebagai petugas sensus.
Rupanya video tersebut tak berkaitan dengan kegiatan Sensus Ekonomi. Itu hanya video hiburan seorang kreator konten bernama Tika di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
