Enung melanjutkan, pemilik rumah mengabaikan ketukan pintu dan sapaan salam dari petugas. Mereka membiarkan petugas sensus mematung di depan rumah, hingga akhirnya beranjak dari rumah itu.
“Rupanya mereka termakan hoaks sehingga menganggap Sensus Ekonomi itu tak berguna. Malah dikait-kaitkan dengan masalah pajak, dan sensus dianggap berpotensi bisa membocorkan data pribadi,” imbuhnya.
Bagaimanapun, data harus diperoleh. Enung dan timnya tak menyerah. Dalam menghadapi responden seperti itu, dia merasa perlu berkoordinasi dengan perangkat desa.
“Kami berkoordinasi dengan Ketua RT dan RW. Alhamdulillah, setelah kami melakukan pendekatan dan memberi penjelasan secara detail, responden akhirnya bisa memahami ketika kami sambangi beberapa hari kemudian,” terang Enung.
Dia menambahkan, setiap petugas sensus dipastikan akan menghadapi segelintir warga yang apriori. “Tapi, kebanyakan responden sangat kooperatif kok,” imbuhnya.
Memperdaya Masyarakat?
Asep Ami, perajin tahu di Jalan Purnawarman, Kelurahan Sindangkasih, termasuk responden yang kooperatif. Pengusaha muda ini tak menampik bahwa Sensus Ekonomi direcoki oleh hoaks yang bertebaran di media sosial.
“Banyak. Jumlahnya tak terhitung. Kabar bohong itu tersebar di berbagai platform seperti Instagram, Facebook, X, bahkan YouTube. Ada yang mengklaim bahwa sensus akan mencuri dan menyebarkan data kita. Ada pula yang mengait-kaitkan dengan pajak,” ujar Ami.
Dia mengaku tak terpengaruh dengan kabar-kabar yang tak jelas sumbernya itu. Dia percaya bahwa tak mungkin BPS sebagai lembaga negara akan memperdaya masyarakat.
“Untuk menangkis rumor-rumor itu, saya mengeceknya di website resmi BPS atau di media massa. Pegangan saya itu. Sumbernya jelas,” imbuhnya.
Ketika ditanya apakah Sensus Ekonomi bermanfaat baginya, Ami menganggukkan kepala. Di antaranya, kata Ami, pemerintah memiliki sejumlah program penyaluran modal dan pemberian bantuan.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
