Bidang pekerjaan untuk peserta magang yang diselenggarakan selama tiga bulan ini meliputi copywriting, IT, administrasi, dan desain grafis.
Luisa mengatakan, secara nasional tingkat serapan difabel ke industri formal masih terbilang kecil. Ada sekat antara yang dibutuhkan perusahaan dengan yang tersedia di lapangan kerja atau di pasar tenaga kerja.
Luisa Krismaningrum, Section Head Organization Development UT (kiri) menyatakan bahwa HARMONIKA menjadi media untuk latihan kerja kaum difabel. (Foto: dok UT)
“Nah, HARMONIKA menjadi media untuk latihan kerja mereka, sekaligus untuk menyelaraskan antara kompetensi dengan kebutuhan,” imbuh Luisa.
Dia melanjutkan, program ini terbilang spesial jika dibandingkan program-program sejenis di perusahaan lain.
“Di UT, program magang untuk teman-teman difabel ini di-handle oleh Human Capital. Bukan bagian dari CSR,” terangnya. Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, UT memang menempatkan HARMONIKA dalam bagian Developing High-Quality Human Capital.
Membuka Ruang Kaca
Ujaran yang disampaikan Luisa, diamini Taufiq Hidayat, Pengurus Yayasan Autisma Indonesia (YAI). Yayasan yang bermarkas di Jakarta ini secara intens mengedukasi masyarakat mengenai gangguan spektrum autisme untuk menghilangkan stigma.
Taufiq Hidayat, Pengurus Yayasan Autisma Indonesia (YAI) berharap program HARMONIKA mampu menginspirasi perusahaan-perusahaan lain. (Foto: dok UT)
“Benar, program ini berada di bawah Human Capital. Jadi, bukan charity program,” terang Taufiq, Selasa, 15 September 2026.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
