Bea pun menyinggung soal perbedaan antara kebijakan perusahaan yang mendukung kesetaraan gender dengan kebijakan yang hanya menjadikan perempuan sebagai simbol keberagaman, promosi, atau citra perusahaan.
Menurutnya, hal itu bisa dilihat dari implementasi peraturan yang dibuat perusahaan.
Misalnya, peraturannya terlihat bagus, tetapi implementasinya buruk. Hal tersebut akan terlihat dari cara manajemen memperlakukan pekerja perempuan.
“Jika dibandingkan dengan perusahaan nontransportasi, biasanya peraturan dan standar operasional prosedur atau SOP untuk pekerja perempuan di sektor transportasi sangat terperinci. Lingkungan kerjanya juga sangat mendukung,” ujarnya.
Terakhir, Bea mengingatkan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah. Perempuan adalah makhluk yang tangguh.
“Secara fisiologis pun, perempuan sebenarnya memiliki ketangguhan tersendiri dibandingkan laki-laki. Perempuan harus mengalami menstruasi setiap bulan, kemudian mengandung, serta menghadapi beban ganda sebagai ibu sekaligus sebagai orang yang bekerja,” pungkas Bea.
Jalanan Kota Bandung terus ditingkahi oleh hiruk-pikuk ribuan kendaraan. Di antara suara klakson, antrean panjang di sejumlah ruas jalan, dan nyanyian pengamen di perempatan lampu merah, ada Srikandi-srikandi Bluebird.
Salah satu Srikandi yang mengaspal di seantero Bandung itu bernama Atun Fitrotun. Ya, sesosok perempuan tegar yang tak mengenal kata menyerah.
Itu seperti yang dia catat pada aplikasi WhatsApp-nya. Di bawah foto profilnya, tertera kalimat: Jangan pernah menyerah, karena setiap langkah kecil membawa kita lebih dekat kepada tujuan.**
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
