Dikatakannya, Bluebird merupakan perusahaan terbuka terhadap isu-isu perempuan, memiliki SOP, manajemen yang bagus, dan rekam jejaknya pun baik.
“Jangan sampai hal-hal baik itu hilang atau justru menurun. Harus dipertahankan dan konsisten,” imbuh Bea.
Dia menambahkan, kehadiran perempuan di ranah yang biasanya didominasi laki-laki bukan hanya memberikan harapan, melainkan juga menunjukkan bahwa dunia kerja dapat menjadi ruang kesetaraan.
“Artinya, ada ruang bagi perempuan untuk berpendapat, berkembang, dan menjadi ahli di bidang tersebut,” ujarnya.
Bea menyebut sejumlah indikator untuk menilai kemajuan kesetaraan gender di perusahaan.
Menurutnya, kemajuan kesetaraan gender bukan melulu dilihat dari berapa banyak pekerja perempuan di sebuah perusahaan.
“Berapa lama perempuan bekerja di perusahaan tersebut, itu bisa dijadikan indikator. Misalnya, dia bisa bertahan lebih dari lima tahun. Itu bagus karena menunjukkan bahwa tempat kerjanya benar-benar mendukung. Dia bisa bertahan dan mendapatkan pengalaman,” tutur Bea.
Indikator lain, imbuhnya, adalah bagaimana perusahaan memberikan kompensasi yang sesuai dengan kompetensinya. Itu juga penting.
Bukan Makhluk Lemah
Menurut Bea, tantangan bagi pekerja perempuan salah satunya adalah masih kuatnya stereotip gender.
Misalnya, ada pemahaman bahwa perempuan seharusnya mengurus rumah, membantu suami, dan pekerjaan rumah lainnya.
“Padahal, perempuan yang bekerja itu sebenarnya juga membantu keluarga,” tutur Bea yang juga tercatat sebagai Pemimpin Redaksi dan Co-Director YJP ini.
Tantangan lain yakni berkaitan dengan keselamatan, terutama ketika perempuan pengemudi harus bekerja pada sif malam.
Dikatakan Bea, belum tentu semua perusahaan jasa transportasi memiliki aturan atau kebijakan tentang perlindungan perempuan pengemudi dari kekerasan seksual.
Setahu Bea, Bluebird memang sudah memiliki mekanisme dan aturan yang mengatur tentang antikekerasan, baik untuk pengemudi maupun penumpang. Dia berharap aturan itu benar-benar dijalankan.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
