Dari penghasilannya menjadi Srikandi Bluebird, Mpok Atun telah mampu menghantarkan keempat anaknya menjadi sosok-sosok yang mandiri.
“Dua anak perempuan bekerja sebagai barista di salah satu hotel bintang 5 di Bali, sedangkan anak lelaki saya menggeluti dunia model di Jakarta. Yang satu lagi, memilih berbisnis buka kafe di Pekalongan,” tuturnya.
Program beasiswa Bluebird Peduli menjadi program yang sangat dinanti oleh keluarga pengemudi untuk menunjang dan membantu biaya pendidikan mereka. (Foto: Dok Bluebird Group)
Lantas setelah anak-anaknya sudah berkecukupan, mengapa Mpok Atun masih bertahan menjalani profesinya sebagai Srikandi Bluebird? Mendengar pertanyaan itu, dia tersenyum sebelum menjawabnya.
Bukan sekali dua kali anak-anaknya menyarankan agar Mpok Atun beristirahat saja di rumah sembari menikmati hari-hari menjelang masa tuanya. Mereka siap menyokong modal jika ibunya itu berniat buka usaha.
Namun Mpok Atun menggelengkan kepala. Alasan yang membuatnya tetap bekerja adalah karena dia berprinsip tak ingin menyusahkan anak-anaknya.
Jika masih mampu berkarya, dia ingin tetap berdiri di kaki sendiri. Biarlah anak-anak fokus dengan masa depan mereka.
Alasan lain, karena baginya Bluebird adalah keluarga kedua. Dia sudah telanjur betah berada di lingkungan orang-orang yang tepat.
“Saya sudah menyatu dengan rekan-rekan kerja di Bluebird. Kami adalah sebuah keluarga,” ujarnya.
Sosok Penyuka Kucing
Melihat Mpok Atun keukeuh dengan pendiriannya, akhirnya anak-anaknya pun ‘menyerah’. Mereka tak lagi menyarankan agar ibunya berhenti bekerja di perusahaan peraih Indonesia Best Business Transformation 2023 oleh Majalah SWA itu.
“Mereka tak ingin mengusik kebahagiaan yang saya temukan di tempat kerja. Mereka turut bahagia ketika melihat saya bahagia,” ujar Mpok Atun.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
