Selain pengemudi, perempuan di perusahaan itu pun ada yang berada di jajaran direksi. Sebut saja misalnya Noni Purnomo yang menjabat sebagai CEO Bluebird pada 2019–2021.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono mengungkapkan, inklusivitas terhadap perempuan adalah bagian dari identitas perusahaannya.
“Kami terus mendorong lebih banyak perempuan untuk berkembang dan menjadi inspirasi, baik di balik kemudi maupun di seluruh lini perusahaan,” ujarnya.
Dikatakannya, Bluebird mulai merekrut pengemudi perempuan sejak 2010. Para Srikandi ini berusia 24 hingga 60 tahun.
Di rumah inilah pendiri Bluebird Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono pertama kali menjalankan bisnis taksinya. (Foto: Dok Bluebird Group)
Adrianto percaya bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam membangun kualitas layanan transportasi.
“Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa profesionalisme dan kualitas layanan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh komitmen dan integritas,” tandas Adrianto.
Manajemen yang Responsif dan Terbuka
Liku hidup Mpok Atun hingga menghantarkannya menjadi Srikandi Bluebird, diapresiasi Patricia Beata Kurnia, aktivis dan peneliti gender dari Yayasan Jurnal Perempuan (YJP).
“Mpok Atun adalah perempuan hebat. Dia berhasil bangkit dari keterpurukan. Dia sanggup mengasuh empat anak, yang tak semua orang belum tentu memiliki kemampuan atau kesempatan untuk melakukannya,” ujarnya, Senin, 26 Oktober 2026.
Menurut Bea, sapaan akrab Beata, Bluebird merupakan salah satu perusahaan yang dikenal memiliki manajemen yang cukup responsif dan terbuka.
“Jadi, Bluebird juga patut diapresiasi. Namun, bukan berarti karena perusahaannya bagus, kita tidak boleh mengkritisinya. Kita tetap harus bersikap kritis agar tidak terjadi kelalaian-kelalaian yang mungkin muncul,” tandas Bea.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
